May 20, 2016

Belajar Kepada Siapapun

Ketika menutup kegiatan sebuah Training of Trainer, Prof. Muchlas Samani, mantan Rektor Unesa Surabaya memberikan sambutan kata-kata penutup kegiatan. Sebagai konsultan beliau memang selalu memberi masukan dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh USAID PRIORITAS. Dalam sambutan yang disampaikan tersebut, beliau menceritakan tentang kebiasaan barunya menyambungkan dua jenis tanaman hias sehingga menghasilkan satu jenis tanaman yang berbeda, rupanya ketertarikan dan keterampilan menyambungkan dua jenis tanaman hias itu diperoleh dari seorang penjual tanaman hiasa di salah satu ruas jalan di Surabaya.
Dengan sabar Prof. Muchlas belajar menyambung tanaman hias tersebut dengan bimbingan Pak Min, penjual tanaman hias tadi. Perlu diketahui, Pak Min hanyalah penjual tanaman hias yang sekolahnyapun tidak sampai lulus SD, tapi punya kemampuan dalam menyambung tanaman hias.
Singkat kata, akhirnya Prof. Muchlas berhasil menyambungkan dua tanaman hias, yang diletakkan di halaman rumah. Suatu ketika besan (mertua dari anak) beliau datang berkunjung kerumah dan menemukan tanaman hias hasil sambungan Prof Muchlas. Rupanya sang besan tertarik dengan tanaman sambung tadi. Setelah berdialog tentang tanaman tadi, sang besan minta diantarkan menemui Pak Min, penjual tanaman hias. Perlu diketahui, besan Prof. Muchlas tersebut adalah ketua Balitbang Pertanian di salah satu Kabupaten di Jawa Timur.
Pelajaran apa yang bisa dapatkan dari cerita tersebut? pertama, seorang profesor tidak merasa malu untuk belajar kepada seorang penjual bungan yang tingkat pendidikannya jeuh lebih rendah, hanya lulusan SD. Padahal, bisa saja Profesor cukup belajar dari buku-buku yang beredar di pasaran, tapi keyakinan sang penjual tanaman hias sebagai guru yang menuntun profeson mau belajar. Bahkan, besan profesor yang nota benenya adalah pakar di bidang pertanianpun tidak sungkan untuk belajar kepada penjual tanaman hias juga. Gengsi tidak laku di sini, jika niatnya belajar kepada siapapun tidak peduli. Kedua, Tingkat pendidikan, betapapun tingginya, tetap ada batasnya, di atas langit ada langit, tidak sepantasnya kita menyombongkan akademik kita, karena pada aspek tertentu tingkat pendidikan kita tidak ada artinya. Ketiga, penghargaan harus diberikan kepada siapapun, sebab jangan-jangan, orang lain yang nampak biasa ternyata menyimpan kemampuan yan kita perlukan. Terlepas dari itu, memang kita dituntut mengembangkan sikap menghargai kepada orang lain.

1 komentar:

Vonie Cornelia said...

Artikel ini sangat menarik. Terimakasih telah berbagi informasi. Informasi ini sangat membantu

ST3 Telkom

Post a Comment

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design