Jul 12, 2011

PERAN PENDIDIKAN GEOGRAFI DALAM MENCIPTAKAN SEKOLAH BERWAWASAN KONSERVASI LINGKUNGAN DAN MITIGASI BENCANA

Eva Banowati
Dosen Jurusan Geografi FIS Unnes

Pendahuluan

Dalam dekade terakhir masih segar dalam ingatan, di negara kita sering dilanda berbagai bencana, baik bencana alam maupun bencana yang diakibatkan oleh perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungannya. Sebutlah bencana gempa yang melanda Banda Aceh di tahun 2004, disusul kembali bencana gempa di Suka Bumi-Jawa Barat, belum selesai bencana tersebut muncul kasus Lumpur Sidoarjo (lapindo), kemudian disusul lagi Gempa Yogyakarta, Gempa di Mentawai, Meletusnya Gunung Merapi, Gunung Karakatau dan Bromo. Sederetan bencana telah memberkan pelajaran bagi bangsa kita, betapa tidak berdayanya kita menghadapi peristiwa tersebut. Belajar dari sejarah bencana tersebut, perlu kita sikapi bersama mitigasi apa yang akan dilakukan oleh berbagai komponen bangsa, agar secara mental dan teknis kita sudah siap menghadapinya bila terjadi bencana yang serupa.
Dalam makalah singkat ini, saya mencoba untuk memaparkan bagaimana peran pendidikan geografi di sekolah untuk menciptakan sekolah berwawasan konservasi lingkungan dan mitigasi bencana.

Geografi Sebagai Persfektif Ilmu pengetahuan
Perbincangan tentang jati diri Geografi telah beberapa kali dilakukan di Indonesia, baik melalui lokakarya, seminar maupun melalui sarasehan yang dilakukan oleh Fakultas/Jurusan/Departemen Geografi, organisasi profesi (IGI) dan ikatan alumni (IGEGAMA). Jati diri suatu disiplin ilmu dapat ditelaah dari definisinya. Bintarto (1981) dalam papernya berjudul Suatu Tinjauan Filsafat Geografi mengemukakan Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di muka bumi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi baik yang fisikal maupun yang menyangkut mahkluk hidup beserta permasalahannya, melalui pendekatan keruangan, ekologikal dan regional untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan Seminar dan lokakarya yang dilaksanakan di Jurusan Geografi, FKIP, IKIP Semarang tahun 1988 telah menghasilkan rumusan Geografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perbedaan dan persamaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan, kewilayahan dalam konteks keruangan.
Rumusan dua definisi Geografi tersebut sedikit berbeda namun memberikan ketegasan dan kejelasan tentang obyek kajian dalam Geografi baik obyek material maupun formalnya. Obyek materialnya adalah gejala, fenomena, peristiwa di muka bumi (di geosfer), sedang obyek formalnya adalah sudut pandang atau pendekatan: keruangan, kelingkungan dan kompleks wilayah. Ketegasan obyek formal kajian Geografi penting untuk membedakan kajian dengan disiplin ilmu lain yang obyek materialnya juga fenomena geosfer. Definisi Geografi versi Semlok Semarang tersebut masih banyak digunakan dalam proses pembelajaran geografi di sekolah dan perguruan tinggi, dan bukan satu-satunya yang harus diajarkan kepada peserta didik, karena masih banyak definisi lain yang perlu disampaikan untuk memperkaya dan memperluas wawasan tentang jati diri geografi seperti yang dikemukakan oleh Hartshorne, 1964; Bradford, 1982; Suharyono dan Amien, 1994; Castre et al, 2005.
Variasi definisi tersebut di atas juga memberikan ketegasan kepada kita bahwa obyek kajian Geografi adalah fenomena geosfer dan sudut pandangnya adalah keruangan, kelingkungan dan kewilayahan meskipun dengan rumusan yang berbeda. Rumusan yang berbeda dari definisi Geografi dapat dipahami dengan munculnya pandangan Geografi yang menyatakan bahwa geografi adalah apa yang dikerjakan oleh Geograf. Dari definisi tersebut, aspek lingkungan mendapat tekanan yang lebih. Hal tersebut sangat mungkin diinspirasi oleh permasalahan lingkungan yang semakin meningkat dan mengglobal di muka bumi ini, seperti perubahan iklim global, penurunan kualitas lingkungan, bencana banjir, kekeringan, longsor, kemiskinan, penurunan dan kerusakan sumber daya alam. Permasalahan lingkungan dan bencana yang banyak terjadi sebagai akibat ketidak imbangan interaksi antara lingkungan dengan aktifitas manusia. Interaksi lingkungan-manusia merupakan sebagian dari kajian geografi yang menggunakan pendekatan kelingkungan. Oleh sebab itu permasalahan lingkungan menjadi perhatian geograf, dan selain itu geografi sebagai ilmu yang berorientasi pada pemecahan masalah (problems solving). Permasalahan lingkungan bersifat kompleks, multi dimensi, saling kait mengkait, sehingga pemecahannya memerlukan pendekatan terpadu.
Untuk menuju geografi terpadu (unifying geography) perlu ditegaskan komponen inti Geografi. Matthews, et al., (2004) mengusulkan empat komponen inti Geografi: ruang (space), tempat (place), lingkungan (environment) dan peta (maps). Ruang, tempat, lingkungan dan peta menjadi label dari Geografi. Komponen tersebut mempunyai kedudukan yang sama dalam kajian Geografi, baik dalam kajian Geografi Fisik maupun Geografi Manusia. Demikian juga dapat menjadi dasar konsep untuk disiplin Geografi secara utuh.

Geografi dalam Pembelajaran di Sekolah
Pendidikan geografi bergerak pada ranah pengetahuan, kecakapan, perilaku untuk membentuk pengalaman anak didik yang berwawasan konservasi dan kemampuan mitigasi bencana. Hal ini berkaitan dengan ruang lingkup lingkungan geografi yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment). Konservasi dan mitigasi bencana penekanan kajiannya pada aspek aktivitas manusia dalam konteks keruangan dalam menyikapi alam. Hal ini merupakan fakta bahwa manusia bertempat tinggal di suatu ruang/ wilayah. Fenomena kerusakan lingkungan berpontensi mengancam eksistensi manusia. Sehubungan dengan hal itu pembelajaran geografi dalam pemecahan masalah membawa pertanyaan fundamental yakni: “Where is it?, Why is it there? dan What follow from it being there?
Berdasarkan struktur keilmuannya, Geografi adalah disiplin ilmu yang mengkaji tentang fenomena permukaan bumi atau geosfer. Geografi merupakan ilmu yang mencitrakan, menerangkan sifat – sifat bumi, menganalisis gejala – gejala alam dan penduduk, serta mempelajari corak yang khas tentang kehidupan dari unsur-unsur bumi dalam ruang dan waktu. Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa Geografi adalah ilmu pengetahuan yang menggambarkan, melukiskan atau mendeskripsikan hal – hal yang berkaitan dengan persamaan dan perbedaan, baik yang terdapat di daratan, lingkungan perairan, lingkungan udara, maupun lingkungan kehidupan. Geografi terutama merupakan kajian tentang fenomena alam, dan kaitannya dengan manusia di permukaan bumi (Bintaro, 1991; BSNP, 2006).
Hakekat sasaran geografi meliputi: hubungan manusia dan lingkungan, dan region sebagai hasil aktivitas manusia dalam ruang. Keeratan hubungan melalui relasi, interrelasi, interaksi, diferensiasi unsur-unsur alamiah dan manusiawi dalam ruang tertentu di permukaan bumi. Geografi terpadu atau unified geography yang tidak memisahkan geografi atas geografi fisis dan geografi sosial. Pada Kurikulum 1975, geografi masuk dalam pelajaran Ilmu Bumi di sekolah dasar (SD) diberikan sejak kelas 3 hingga kelas 6. Cakupan materi berjenjang mulai lingkup kecamatan dipelajari di kelas 3, kabupaten di kelas 4, lingkup propinsi di kelas 5, dan kelas 6 mempelajari materi dunia (panca benua). Di SLTP, diberikan secara integrasi dalam pengetahuan Negara-negara (regional). Di SLA geografi fisik dan antariksa menjadi IPBA masuk IPA. Geografi sosial ekonomi Indonesia dan geografi Regional Dunia masuk rumpun IPS. Pada Kurikulum 1984/1985, kedudukan mata pelajaran geografi di SD masuk rumpun IPS, SLTP geografi fisik dan antariksa menjadi IPBA, geografi sosial ekonomi Indonesia dan geografi Regional Dunia masuk rumpun IPS, begitu juga di SMA, kedudukan mata pelajaran geografi program inti.
Kurikulum1994 menggunakan pendekatan konsep esensial materi, pendekatan pembelajarannya CBSA dan keterampilan proses dengan sistem cawu dan pendekatan tujuan pembelajaran. Kritik/ kelemahan mata pelajaran geografi kurikulum 1994 adalah:
a. sarat materi, suplemen 1999 berisi pengurangan pokok bahasan.
b. materi kurang terfokus pada fenomena atau gejala permukaan bumi yang nyata terkait dengan wilayah dan kebutuhan hidup anak dalam masyarakat.
c. pendekatan pembelajaran serta materi belum sepenuhnya dipahami penulis buku, guru akibatnya materi lebih banyak berupa fakta, kurang dijumpai contoh kasus aktual dan pemecahan masalahnya. Termasuk buku geografi SD, SLTP, SMA tidak terlihat gradasinya.
Kurikulum 2004 dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) lebih menekankan pada aspek kompetensi siswa. Pada KBK, geografi mempunyai keleluasaan dalam pembelajaranya di SMA/MA karena pelajaran geografi diajarkan tidak hanya di kelas X dan pogram IPS kelas XI dan XII saja, tetapi juga diterapkan pada program IPA kelas XI. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), digulirkan pada pertengahan 2006 mengacu pada standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Disarankan harus berlatar belakang dan memperhatikan enam faktor, yaitu: globalisasi, 2) melakukan upaya-upaya mendasar untuk menemukan kembali substansi dan wawasan kegeografian, 3) pengajar (dosen/ guru) dituntut mampu menjalankan peranya secara professional, 4) mengajar geografi dengan baik dan tidak menyimpang, 5) relevansi pembelajaran geografi terhadap dunia kerja, dan 6) aplikasi pembelajaran geografi dalam kehidupan di masyarakat termasuk membekali siswa pengetahuan menjaga kelestarian alam (Mukminan, 2005).
Pengembangan kurikulum dilihat dari subtansi menunjukkan kemajuan yang tinggi, namum masih terbatas pada geografi sebagai pengetahuan yang bersifat wajib karena menjadi mata pelajaran. Pembelajaran geografi hingga saat ini terasakan geografi masih terbatas pada “studi”, masih berpacu pada Cognitive Domain (Ranah Kognitif) tingkat rendah yaitu pada Pengetahuan (C1) dan Pemahaman (C2). Perilaku yang menekankan aspek intelektual sangat diperlukan terutama dalam percaturan global. Kondisi demikian sangat memprihatinkan karena hasil belajar geografi siswa Indonesia masih bersifat konseptual, belum mampu menghadirkan rasa cinta bertanah air dengan segala konsekuensinya (sense of belonging).
Urutan topik dan diajarkan di geografi telah disesuaikan oleh pengembang kurikulum berdasarkan tingkat kematangan siswa. Jenis pengajaran dan strategi belajar secara umum telah pula dirancang oleh Tim Pengembangnya, meskipun belum dibarengi oleh teknologi yang semestinya menyertainya. Misalnya di SMA ada materi Sistem Informasi Geografi dan Penginderaan Jauh yang perlu didukung oleh Laboratorium (hal ini di Indonesia dipandang terlalu berlebihan/ pemborosan). Disarankan strategi yang diterapkan (teacher-centered atau student-centered) harus tampak pengembangan konten materi yang bersifat holistik baik aspek sosial maupun aspek fisik dari sudut pandang keruangan.
Kajian Geografi menekankan pada fakta dan data dihubungkan dengan komponen-kompenen geosfera secara fungsional dan struktural sehingga membentuk suatu sistem geosfera. Pada mata pelajaran IPS, pembelajaran pendidikan lingkungan, konservasi dan mitigasi bencana dapat disisipkan pada kompetensi dasar: 1) pengetahuan mengenai dinamika masyarakat dalam menyikapi bencana; 2) ketrampilan menyelamatkan diri; 3) kepercayaan diri dan 4) kemampuan berekpresi. Pengkondisian tersebut berkaitan dengan geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong peningkatan kehidupan. Bidang kajian geografi meliputi bumi, aspek dan proses yang membentuknya, hubungan kausal dan spasial manusia dengan lingkungan, serta interaksi manusia dengan tempat. Sebagai suatu disiplin integratif, geografi memadukan dimensi alam fisik dengan dimensi manusia dalam menelaah keberadaan dan kehidupan manusia di lingkungannya.
Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman mempengaruhi persepsi manusia tentang tempat dan wilayah (Depdiknas, 2006; Banowati, 2006).
Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dalam mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar Mata Pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Mata Pelajaran Geografi bertujuan agar peserta didik berkemampuan:
1. Memahami pola spasial, lingkungan dan kewilayahan serta proses yang berkaitan
2. Menguasai keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi
3. Menampilkan perilaku peduli terhadap lingkungan hidup dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif serta memiliki toleransi terhadap keragaman budaya masyarakat.
Kesemuanya dituangkan dalam ruang lingkup mata pelajaran Geografi meliputi aspek - aspek sebagai berikut.
a. Konsep dasar, pendekatan, dan prinsip dasar Geografi
b. Konsep dan karakteristik dasar serta dinamika unsur-unsur geosfer mencakup litosfer, pedosfer, atmosfer, hidrosfer, biosfer dan antroposfer serta pola persebaran spasialnya
c. Jenis, karakteristik, potensi, persebaran spasial Sumber Daya Alam (SDA) dan pemanfaatannya
d. Karakteristik, unsur-unsur, kondisi (kualitas) dan variasi spasial lingkungan hidup, pemanfaatan dan pelestariannya
e. Kajian wilayah negara-negara maju dan sedang berkembang
f. Konsep wilayah dan pewilayahan, kriteria dan pemetaannya serta fungsi dan manfaatnya dalam analisis geografi
g. Pengetahuan dan keterampilan dasar tentang seluk beluk dan pemanfaatan peta, Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra penginderaan jauh.

Membelajarkan Konservasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana
Berdasarkan letak geografisnya, wilayah Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Indonesia berada pada posisi strategis, yang mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan percaturan global. Letak setiap wilayah di permukaan bumi, merupakan tata geografis seluruh kondisi lingkungan yang dapat memberikan gambaran mengenai potensi yang dimilikinya, kemungkinan aktivitas yang dapat terjadi dan dapat dilakukan, serta prospek yang dapat dikembangkan untuk mencapai kemajuan-kemajuan di masa mendatang. Secara geologis Indonesia terletak pada pacific ring fire merupakan wilayah rawan bencana, karena banyaknya gunung berapi yang sewaktu-waktu bererupsi, gempa bumi bahkan tsunami. Kondisi ini diperlukan kemampuan penduduknya untuk mengelola agar tidak menjadi suatu bencana melalui pembudayaan dalam pendidikan (Leksono, 2008; Banowati 2010).
Kemampuan profesional guru geografi dalam pembelajaran dituangkan dalam rencana pembelajaran yang digunakan sebagai acuan mengajar, yakni kemampuan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan melaksanakan rencana tersebut. Dalam menjalankan profesinya diharapkan semua guru geografi, mengetahui tujuan RPP tentu saja beserta isi RPP diantaranya tentang pemilihan metode, kemampuan menggunakan media pembelajaran, dan melaksanakan penilaian. Membelajarkan konservasi berkaitan dengan menjaga flora, fauna, penduduknya didalam memelihara lingkungan, serta mitigasi bencana. Berkaitan dengan hal itu pengetahuan tentang konservasi, flora, fauna yang terancam punah serta mitigasi bencana sudah saatnya dimasukkan dalam muatan kurikulum mulai tingkat SD, SMP dan SMA. Hendaknya disampaikan menarik yang melibatkan aspek kognitif, afektif, motorik, dan sosial (hubungan antar manusia) untuk membentuk pembelajaran yang bermakna. Hubungan itu dapat bersifat interelatif, interaktif, dan intergratif sesuai dengan konteksnya dalam mengelola lingkungan sebagai sumber daya (Banowati, 2006; 2010).
Mata pelajaran Geografi membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi. Peserta didik didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis di permukaan bumi. Selain itu peserta didik dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman mempengaruhi persepsi manusia tentang tempat dan wilayah. Pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperoleh dari mata pelajaran Geografi diharapkan dapat membangun kemampuan peserta didik untuk bersikap, bertindak cerdas, arif, dan bertanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial, ekonomi, dan ekologis. Pada tingkat pendidikan dasar mata pelajaran Geografi diberikan sebagai bagian integral dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Upaya-upaya pelestarian harus dilakukan dalam wacana membangun kembali lingkungan yang rusak. Metode yang paling tepat adalah memasukkan substansi konservasi karena berpandangan berkelanjutan.

Pendidikan Geografi di Universitas Konservasi
Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan manusia pada saat ini bertambah buruk dan menyebabkan masalah bagi manusia sendiri. UNNES sebagai perguruan tinggi yang mengusung konservasi berdasar keprihatinan dengan banyaknya kerusakan alam yang terjadi. Pendeklarasian sebagai Universitas Konservasi untuk menyelamatkan kondisi lingkungan alam yang semakin terpuruk. Program UNNES Konservasi di mulai dengan penanaman pohon di kampus dan sekitarnya termasuk pembangunan embung (danau kecil) sebagai cadangan air di musim kering. UNNES memiliki luasan areal 1.444.251 m2 berpotensi untuk di jadikan wilayah konservasi. Selain itu posisi geografisnya sangat mendukung untuk dijadikan wilayah konservasi yakni wilayah perbukitan sebagai fungsi hidrologis (recharge area). UNNES dikelilingi berbagai tipe habitat dan tutupan lahan (land cover) antara lain: hutan, kebun, sawah. Pada lingkungan alam ini telah diinventarisir dengan ditemukan 58 jenis flora dan fauna termasuk diantaranya 14 jenis yang dilindungi sesuai Peraturan Perundangan Indonesia (Unnes, 2010).
Kebutuhan pendidikan yang menekuni bidang geografi pada tingkat Universitas semakin diperlukan. Jurusan geografi menghasilkan ilmuwan, yang dapat bekerja pada berbagai instansi berkaitan dengan fenomena geosfer yang menjadi kompetensinya. Demikian pula universitas yang memiliki jurusan pendidikan geografi menghasilkan guru geografi yang handal dan mampu mengembangkan pembelajaran geografi di sekolah. Jurusan geografi sebagai lingkungan budaya sejak semula jadi, telah berkomitmen menanamkan pengetahuan tentang konservasi, lingkungan hidup dan mitigasi bencana melalui perbaikan kurikulum, sehingga setiap civitas academica tahu bahwa bencana alam dapat terjadi sewaktu-waktu dan bagaimana cara menyikapinya. Membelajarkan fenomena geosfer tercermin dalam materi (teori) dan praktikum yang dijalankan secara indoor maupun out door study .

Penutup
Pembelajaran lapangan atau kerja lapangan pada dasamya merupakan hal yang tak boleh ditinggalkan dalam geografi, karena disamping sangat membantu dalam mengembangkan kemampuan analisis, sintesis, interpretasi, mengamati korelasi dan menilai hubungan kausal, pelajaran di lapangan juga akan sangat berguna dalam hal menyamakan persepsi dan membakukan pengertian. Persepsi individu bersifat subjektif, dipengaruhi oleh derajat perhatian, diwarnai oleh pengalaman yang sudah ada dan dapat bersifat sangat khas.

Daftar Pustaka
Bintarto, R dan Surastopo H., 1991. Metoda, Analisa Geografi. Jakarta: LP3ES.
Banowati, Eva. 2006. Membangun Pembelajaran Bermakna. Makalah. Semarang: Seminar Internasional Hispisi.
_______. 2010. Kesiapan LPTK Dalam Menyonsong Pendidikan Profesi Guru (PPG) Untuk Menghasilkan Guru Profesional. Prosiding. Seminar Nasional, Revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Untuk Menghasilkan Guru Profesional. Lampung: Lemlit Unila.
Banowati, Eva, dkk. 2010. Kesiapan Masyarakat Sekitar Dalam Mewujudkan Unnes Konservasi. Laporan Penelitian. Semarang: LP2M UNNES.
Bradford, M.G., and Kent, W.A., 1982. Human Geography. Great Britain: Oxford University Press.
Castre, N.,R., Alisdair, dan S., Douglas. 2005. Questioning Geography Fundamental Debates. UK, USA, Australia: Blackwell
Depdiknas. 2006. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus. Jakarta: BSNP
Gregory, 1981. Man and Environmental Processes. Boston: Mackays of Chathan.
Grenier, L. 1970. Working With Indigenous Kwoledge: A Guide For Research. International Development Research Center. Canada, Otawa
Haggett, P., 1983. Geography: A Modern Synthesis, Revised Third Edition. New York: Harper & Row, Publisher.
Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Hartshorne, R., 1964. The Nature of Geography, The Association of American Geography. Lancaster.
Leksono, Suroso Mukti, 2008. Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Konservasi, Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana Alam (Sebagai Upaya Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup dan Mengatasi Bencana Secara Global). Laporan Penelitian. Serang: FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Mukminan. 2005. Metode Pembelajaran Geograf. Makalah, Workshop Menuju Pembelajaran Geografi Di Era Global, Dalam Rangka Dies Natalis Ke-42 Fakultas Geografi UGM Yogyakarata.
Natawidjaja, Rachman, dkk. 2007. Rujukan Filsafat, Teori dan Praksis Ilmu Pendidikan. Bandung: UPI Press.
Suharyono dan Amien, Moch. 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: PMTK.

0 komentar:

Post a Comment

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design