May 22, 2016

Perlunya kecerdasan Geografi

Fenomena apa yang kita temukan di jalan raya ketika hujan berlangsung? beberapa waktu yang lala di media digital ditayangkan gambar para pengendara motor berteduh di bawah jembatan. Jumlahnya bukan hanya satu, tapi puluhan, itu yang menjadi salah satu pemicu kemacetan disepanjang jalan karena sebagian badan jalan dipenuhi pengendara motor yang berteduh. Mengapa mereka harus berteduh di bawah jembatan? ya tentu saja karena mereka tidak membawa mantel atau jas hujan.
Hal yang sama kita temukan, di mana para pejalan kaki berebut tempat berteduh menghindari hujan karena mereka tidak membawa payung. Pun juga kita menemukan kantor, sekolah pada pagi hari banyak yang datang terlambat karena alasan hujan. Bicara tentang hujan, saya jadi ingat cerita dosen saya. Beliau cerita ketika studi di Amerika. Saat pagi itu cuaca sangat cerah, tapi media setempat sudah memberi informasi bahwa cuaca akan berubah. Bagi masyarakat sana, informasi cuaca sangat penting, sehingga mereka lebih mempersiapkan diri, tapi rupaya hal itu tidak berlaku bagi dosen saya, maka dosen saya nekad berangkat tanpa memepersiapkan seperti yang dilakukan orang-orang.
Benar saja, belum lama brangkat cuaca sudah berubah, orang-orangpun segera mengenakan pakaian tebal karena cuaca menjadi sangat dingin, tentu saja dosen saya kedianginan karena tidak membawa pakaian seperti yang direkomendasikan media penyedia informasi cuaca. Begitulah, kita orang Indonesia megitu tidak peduli dengan siaran cuaca.
Fenomena di jalanan, dihalaman rumah, dan keterlambatan orang masuk kerja dan masuk sekolah di tempat kita adalah hal lumrah, maka keterlamatan pada saat hujan adalah sesuatu yang wajar dan diterima alasannya. Padahal kita sudah tahu, hujan tidak akan berhenti hanya dengan menunggu di bawah jembatan. Maka kita patut bertanya, apakah di dalam tas kita tersedia payung saat musim hujan? apakah di jog motor kita sudah tersedia jas hujan? sudahkah kita membekali anak-anak kita yang berangkat sekolah dengan payung atau jas hujan?
Pertanyaan itu remeh sekali, bahkan aneh. Saya kuliah di bandung, dan dibandung sering terjadi hujan yang tidak menentu, ketia di dalam tas saya ada tas, banyak mahasiswa sana yang tersenyum, mungkin menganggap saya lebai. Aneh memang, mereka tidak menyediakan payung di dalam tas, padahal mereka tahun hujan akan datang sewaktu-waktu. Begitulah, kecerdasan geografi belum menjadi hal yang melekat. Sama dengan kebiasaan buang sampah pada tempatnya, juga masih sesuatu yang aneh bagi kebanyakan masyarakat kita. Padahal semua tahu, kebiasaan buang sampah sembarangan akan menyebabkan banjir, munculnya penyakit, dan dampak burung yang lain. Itulah....

May 21, 2016

Bersikap Terhadap Perbedaan

Dalam sebuah dialog group WA, sempat memanas karena ada perbedaan fokus pada materi dialog. Dialog diawali dengan keluhan seorang teman (ibu muda) karena anaknya sakit gondongen (saya tidak tahu secara medis penyakit itu disebut apa), dia mengeluh karena naknya rewl dan tubuhnya panas, sementara dokter yang menjadi langganan dia sedang ada di luar kota sehingga dia sedikit panik, minta saranlah dia ke anggota group bagaimana sebaiknya.
Saranpun bermunculan, ada yang menyarankan dibawa kedokter lain, tapi si ibu muda menolak karena sudah kadung cocok dengan dokter langganan dia, ada juga saran untuk minum obat, dan berbagai saran lain yang menurut saya sangat umum dan masuk akal, sampai ada teman saya (sebut saja si A) yang menyarankan ke kuburan... Kok ke kuburan?
Ya, karena di kuburan ada pohon kamboja yang getahnya dapat dioleskan pada bagian yang gondongen, dan berdasarkan pengalaman dia waktu kecil dulu, ketika gondongan, diolesi getah kamboja bisa sembuh.
Oleh teman yang lain (sebut saja si B), saran itu dianggap aneh dan menjurus musrik, karena melibatkan area kuburan dalam proses pengobatan. Toh, sudah ada cara-cara lain, mengapa harus berurusan dengan kuburan? oleh si B, pohon kamboja biasanya adanya di kuburan. Tapi rupanya penjelasan si A tidak bisa diterima, bagaimanapun juga sesuatu yang berhubungan dengan kuburan itu musrik. Perbedaan pendapat terus berlangsung.
Untuk menengahi perbedaan tersebut saya coba bantu menjelaskan, bahwa fokusnya ada pada pohon kamboja, khususnya pada getahnya. Memang, pada umumnya masyarakat yang tinggal ditempat kami jarang ada yang menanam pohon kamboja di halaman rumah. Pohon kamboja biasanya ya hanya ada di kuburan, beda dengan di Bali, kalau di sana hampir setiap halaman rumah ada pohon kamboja. Intinya, jika ada ditempat yang lain yang silahkan. Untuk saat ini mungkin di taman-taman kota ada pohon tersebut, atau penjual bunga hias dan bunga yang lain. Tapi nampaknya si B, sudah terlalu jengkel, nampaknya dia memang sensitif dengan urusan kuburan, entah pengalaman apa yang menyebabkan dia sensitif dengan kubunran, sehingga yang mestinya fokus ke pohon kamboja, jadi melebar kemana-mana.
Dari cerita singkat itu, dapat kita ambil hikmahnya, kadang-kadang kita melakukan sesuatu itu kurang fokus karena terganggu dengan hal-hal yang ada di sekitar fokus tersebut. Ibarat kata kita masih belum mampu mancing, diamana ikannya dapat tapi airnya tidak keruh. Untuk itu kita perlu selalu belajar, termasuk belajar membaca situasi.

May 20, 2016

Belajar Kepada Siapapun

Ketika menutup kegiatan sebuah Training of Trainer, Prof. Muchlas Samani, mantan Rektor Unesa Surabaya memberikan sambutan kata-kata penutup kegiatan. Sebagai konsultan beliau memang selalu memberi masukan dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh USAID PRIORITAS. Dalam sambutan yang disampaikan tersebut, beliau menceritakan tentang kebiasaan barunya menyambungkan dua jenis tanaman hias sehingga menghasilkan satu jenis tanaman yang berbeda, rupanya ketertarikan dan keterampilan menyambungkan dua jenis tanaman hias itu diperoleh dari seorang penjual tanaman hiasa di salah satu ruas jalan di Surabaya.
Dengan sabar Prof. Muchlas belajar menyambung tanaman hias tersebut dengan bimbingan Pak Min, penjual tanaman hias tadi. Perlu diketahui, Pak Min hanyalah penjual tanaman hias yang sekolahnyapun tidak sampai lulus SD, tapi punya kemampuan dalam menyambung tanaman hias.
Singkat kata, akhirnya Prof. Muchlas berhasil menyambungkan dua tanaman hias, yang diletakkan di halaman rumah. Suatu ketika besan (mertua dari anak) beliau datang berkunjung kerumah dan menemukan tanaman hias hasil sambungan Prof Muchlas. Rupanya sang besan tertarik dengan tanaman sambung tadi. Setelah berdialog tentang tanaman tadi, sang besan minta diantarkan menemui Pak Min, penjual tanaman hias. Perlu diketahui, besan Prof. Muchlas tersebut adalah ketua Balitbang Pertanian di salah satu Kabupaten di Jawa Timur.
Pelajaran apa yang bisa dapatkan dari cerita tersebut? pertama, seorang profesor tidak merasa malu untuk belajar kepada seorang penjual bungan yang tingkat pendidikannya jeuh lebih rendah, hanya lulusan SD. Padahal, bisa saja Profesor cukup belajar dari buku-buku yang beredar di pasaran, tapi keyakinan sang penjual tanaman hias sebagai guru yang menuntun profeson mau belajar. Bahkan, besan profesor yang nota benenya adalah pakar di bidang pertanianpun tidak sungkan untuk belajar kepada penjual tanaman hias juga. Gengsi tidak laku di sini, jika niatnya belajar kepada siapapun tidak peduli. Kedua, Tingkat pendidikan, betapapun tingginya, tetap ada batasnya, di atas langit ada langit, tidak sepantasnya kita menyombongkan akademik kita, karena pada aspek tertentu tingkat pendidikan kita tidak ada artinya. Ketiga, penghargaan harus diberikan kepada siapapun, sebab jangan-jangan, orang lain yang nampak biasa ternyata menyimpan kemampuan yan kita perlukan. Terlepas dari itu, memang kita dituntut mengembangkan sikap menghargai kepada orang lain.

May 19, 2016

Memaknai Semangat Kebangkitan

Setiap orang pernah mangalami kegagalan. Orang bijak mengatakan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Seorang kyai bilang, Tuhan akan mengabulkan semua doa-doa manusia, hanya bagaimana Tuhan mengabulkan doa tersebut pemberiannya berbeda-beda, ada yang langsung diberi, akan diberi beberapa saat, atau menunggu lebih lama doa tersebut terkabul. Ketika doa yang kita panjatkan belum juga terkabul, buru-buru kita menyebut kegagalan dari usaha kita. Kegagalan adalah ketidaksesuaian hasil yang diinginkan dari serangkaian usaha yang kita lakukan. Itulah kegagalan.
Setiap usaha yang kita lakukan dengan pamrih tertentu, ketika mengalami ketidaksesuaian secara psikologis kita akan mengalami kekecewaan. Padahal, dalam hidup berapa kali kita harus mengalaminya. Pada dasarnya manusia itu mahluk yang bandel dalam arti positif, sering mengalami kekecewaan tapi tetapi menjalani hidup dengan baik. Beruntunglah kita sebagai manusia, coba mahluk lain, kecewa sekali sudah patah seperti benda-benda itu.
Berbicara kekecewaan dan kegagalan, ada momentum kebangkitan. Anak muda bilang move on, segera melupakan kegagalan dan secepatnya melakukan aktivitas yang lebih produktif. Kebangkitan yang dialami bangsa Indonesia adalah momentum untuk menginventarisasi potensi kekuatan yang ada yang selama ini bercerai-berai menjadi satu kekuatan utuh yang luar biasa. Bangsa kita pernah bercerai-berai dalam kepentingan masing-masing, keterceraian kita merupakan buah politik pemecahbelah penjajah. Ketika kita bersatu, maka pihak lain akan ciut nyalinya. Bukan hanya persoalan perang mengangkat senjata, tapi dalam segala hal. Banyak faktor yang menjadi sumber perpecahan, dari unsur agama, suku, bahasa, mata pencaharian, warna kulit, sampai persoalan sederhana semua berpotensi memecah persatuan diantara kita, tapi semangat persatua akan mengalahkan segalanya. Inilah semangat kebangkitan, yaitu menyadari keberagaman perbedaan yang dihadapi sebagai sebuah potensi mengembangkan kerja sama dan sisi positif yang lain.
Kebangkitan adalah sumbu untuk mendapatkan keberhasilan, karena kebangkitan adalah energi kreatif, dimana siapapun bisa mendapatkan ide-ide yang berseliweran sebagai suatu rencana yang tersusu secara terstruktur dan diharapkan menjadi aksi.
Kebangkitan inu milik kita, dengan cara apapun...

May 18, 2016

Pembelajaran Geografi Berbasis Kecerdasan Lokal Untuk Menumbuhkan Literasi Geografi

Pendahuluan
Di salah satu media online nasional pernah diberitakan salah seorang menteritidak tepat menyebutkan lokasi kabupaten di provinsi tertentu ketika terjadi bencana tanah lonsor. Kesalahan tersebut diketahui dari twiter yang ditulis beliau saat menyampaikan ucapan belasungkawa. Kesalahan tersebut mendapat respon beragam dari masyarakat. Ketidaktepatan menteri menyebut lokasi bisa disebabkan oleh dua hal, pertama karena salah menulis atau lupa, kedua karena benar-benar tidak tahu. Pada peristiwa lain, banyak dari siswa terlambat masuk kelas dengan alasan hujan, karena saat itu sedang musim hujan.
Kesalahan menyebut lokasi dan terlambat masuk kelas karena hujan menjadi salah satu indikator bahwa kesadaran keruangan masyarakat perlu ditingkatkan sebagai salah satu persyaratan masyarakat mencintai linkungan. Saat musim hujan seharusnya siswa melengkapi diri dengan payung atau jas hujan agar tidak terhambat aktivitasnya. Faktanya, banyak yang tidak peduli mensikapi kondisi cuaca.
Fenomena sehari-hari telah direspon masyarakat terdahulu melalui "ilmu titen" yang berlangsung lama sehingga menghasilkan pengetahuan sebagai wujud kecerdasan lokal.

Kecerdasan Lokal dalam Pembelajaran
Kecerdasan lokal bisa juga dimaknai sebagai kearifan lokal yang mendeskripsikan sifat-sifat lokal yang menunjukkan kearifan, kebijaksanaan, penuh nilai, diyakini dan dipertahankan masyarakat setempat, dan dianggap mempunyai kelebihan dan keluwesan dalam menghadapi tantangan lingkungan fisik dan sosial. Lokal berarti setempat, sedangkan arif dimaknai sebagai kebaikan, kebijaksanaan, keutamaan dan istilah lain yang mempunyai makna positif sebagai branding yang membedakan dengan daerah lain. Kita akan menemukan bentuk-bentuk aktivitas masyarakat yang bersifat khas, unik, dan berbeda dengan daerah lain sebagai tetenger wilayah tertentu. Semakin unik daerah tersebut akan semakin mampu mencitrakan diri sebagai daerah yang penuh nilai-nilai keluhuran. Keunikan tersebut muncul karena nilai-nilai yang muncul di daerah tersebut senantiasa disimpan, dijaga, dan diimplementasikan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, baik terwujud dalam pemikiran, aktivitas, maupun artefak yang dapat dideteksi.
Kecerdasan lokal lokal muncul karena respon manusia terhadap tantangan alam yang beragam, dimana bisa saja satu fenomena yang sama direspon dengan cara beragam sehingga menghasilkan identitas kultural masyarakat yang berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat dan aturan khusus yang telah teruji kemampuannya sehingga dapat bertahan secara terus menerus. Kearifan lokal pada prinsipnya benilai baik dan merupakan keunggulan budaya masyarakat setempat dan berkaitan dengan kondisi geografis secara luas. Menurut Keraf (2002), kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis.
Menurut Wagiran (2012), kearifan lokal dalam bahasa asing sering dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat (local wisdom), pengetahuan setempat (local knowledge) atau kecerdasan setempat (local genious). Kearifan lokal juga dapat dimaknai sebuah pemikiran tentang hidup. Pemikiran tersebut dilandasi nalar jernih, budi yang baik, dan memuat hal-hal positif. Kearifan lokal dapat diterjemahkan sebagai karya akal budi, perasaan mendalam, tabiat, bentuk perangai, dan anjuran untuk kemuliaan manusia. Lantaran itu, kearifan lokal merupakan perwujudan dari daya tahan dan daya tumbuh yang dimanifestasikan melalui pandangan hidup, pengetahuan, dan pelbagai strategi kehidupan yang berupa aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal untuk menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, sekaligus memelihara kebudayaannya. Dalam pengertian inilah kearifan lokal sebagai jawaban untuk bertahan dan menumbuhkan secara berkelanjutan kebudayaan yang didukungnya.
Setiap masyarakat termasuk masyarakat tradisional, dalam konteks kecerdasan lokal seperti itu, pada dasarnya terdapat suatu proses untuk menjadi pintar dan berpengetahuan. Hal itu berkaitan dengan adanya keinginan agar dapat mempertahankan dan melangsungkan kehidupan, sehingga warga masyarakat secara spontan memikirkan cara-cara untuk melakukan, membuat, dan menciptakan sesuatu yang diperlukan dalam mengolah sumber daya alam demi menjamin keberlangsungan dan ketersedianya sumber daya alam tanpa mengganggu keseimbangan alam.
Dalam proses tersebut suatu penemuan yang sangat berharga dapat terjadi tanpa disengaja. Artinya, setiap warga masyarakat dapat menghimpun semua informasi, mengingat secara komunal dan melestarikannya, serta mewariskannya turun temurun sebagai upaya melangsungkan kehidupannya. Sejalan dengan perubahan budaya yang menerpa kehidupan masyarakat, masyarakat juga secara perlahan mengembangkan pengetahuan yang telah diwariskan, dan kemudian menciptakan metode untuk membangun pengetahuan. Penciptaan pengetahuan itu pada dasarnya merupakan cara-cara atau teknologi asli (indigenous ways) guna mendayagunakan sumber daya alam bagi kelangsungan kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, masyarakat mengembangkan suatu sistem pengetahuan dan teknologi yang asli (indigenous or local knowledge), yang mencakup berbagai macam cara untuk mengatasi kehidupan, seperti kesehatan, pangan dan pengolahan pangan, serta konservasi tanah.
Kecerdasan lokal yang sedemikian itu, umumnya berbentuk tradisi lisan, dan lebih banyak berkembang di daerah perdesaan. Pengetahuan itu dikembangkan karena adanya kebutuhan untuk menghayati, mempertahankan, dan melangsungkan hidup sesuai dengan situasi, kondisi, kemampuan dan nilai-nilai yang dihayati di dalam masyarakatnya. Karena itu, pengetahuan lokal menjadi bagian dari cara hidup mereka yang arif, agar dapat memecahkan segala permasalahan hidup yang mereka hadapi, sehingga mereka dapat melangsungkan kehidupannya, bahkan, dapat berkembang secara berkelanjutan.
Kecerdasan lokal merupakan produk budaya yang keberadaannya tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan masyarakat. Budaya adalah hasil cipta, rasa, dan karsa yang bersumber pada kepekaan manusia menjawab tantangan lingkungan sekitar untuk tetap bertahan dan mengembangkan kemampuan kesejahteraan. Dengan kemampuan berpikir, manusia mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya untuk tidak menyerah pada kondisi lingkungan tertentu, sampai muncul konsep-konsep gagasan yang dihasilkan, dilanjutkan dengan perilaku adaptif, dan mengupayakan wujud yang secara fisik dapat dimanfaatkan untuk menaklukan alam. Peralatan yang digunakan manusia, baik sederhana maupun modern hakekatnya adalah mengatasi tantangan alam, baik fisik maupun geografis. Periode sekarang kita mengenal internet dan mobile phone untuk menghubungkan antar manusia yang terpisah secara geografis. Dengan demikian kecerdasan yang dimiliki manusia hakekatnya diperuntukkan menjawab tantangan alam.
Tidak semua produk kecerdasan manusia (budaya) dianggap sebagai kearifan lokal. Perlu diperhatikan pendapat S.Swarsi Geriya (2003), secara konseptual, kearifan lokal dan keunggulan lokal merupakan kebijaksanaan manusia yang bersandar pada filosofi nilai-nilai, etika, cara-cara dan perilaku yang melembaga secara tradisional. Kearifan lokal dengan demikian adalah nilai yang dianggap baik dan benar sehingga dapat bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan melembaga.
Menurut Ataupah (2004) kearifan lokal bersifat historis tetapi positif. Nilai-nilai diambil oleh leluhur dan kemudian diwariskan secara lisan kepada generasi berikutnya lalu oleh ahli warisnya tidak menerimanya secara pasif dapat menambah atau mengurangi dan diolah sehingga apa yang disebut kearifan itu berlaku secara situasional dan tidak dapat dilepaskan dari sistem lingkungan hidup atau sistem ekologi/ekosistem yang harus dihadapi orang-orang yang memahami dan melaksanakan kearifan itu.
Sebagai negara yang kepulauan yang luas, Indonesia kaya dengan pengetahuan, tradisi, dan artefak yang menjadi identitas masing-masing kelompok masyarakat sebagai respon tantangan alam. Banyak pengetahuan yang dimiliki sebagai hasil mengingat fenomena alam yang berulang-ulang, dan diimplementasikan melalui aktivitas sehari-hari dan benda-benda teknologi sebagai sarana mereka untuk tetap bertahan.
Salah satu contoh pengetahuan masyarakat yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah sistem penanggalan "pranatamangsa (pranotomongso)" petani masyarakat di Jawa. Penanggalan tersebut menjadi salah salah satu panduang bagi petani untuk menentukan kapan mereka harus menanam, dan kapan mereka harus membiarkan tanah untuk memulihkan kesuburannya. Pranatamangsa merupakan sebuah sistem penanggalan tentang penentuan musim yang dijadikan pedoman masyarakat tani pada zaman dulu. Pranotomongso berasal dari kata Pranoto dan Mongso. Mongso artinya musim. Pranotomongso merupakan bagian dari perhitungan Petangan Jawi yang juga menghitung baik buruk yang dilukiskan dalam lambang dan watak  suatu hari, tanggal, bulan, tahun, wuku, pranotomongso.
Pranatamangsa sangat akrab dengan kehidupan pertanian terutama bagi petani masa lalu, sebagai sebuah pedoman dalam bercocok tanam jauh sebelum masuknya agama Hindu. Kalender Pranatamangsa ini sudah diberlakukan oleh masyarakat Jawa sebelum Hindu datang, kemudian dibakukan oleh Sri Paku Buwono VII (raja kerajaan Surakarta) pada tahun 1855 M. Pada saat itu Raja memberi patokan bagi para petani agar mempunyai hasil panen yang baik. Ini dilakukan untuk menguatkan sistem penanggalan yang mengatur tata kerja dalam ruang dan waktu bagi masyarakat tani untuk mengikuti peredaran musim dari waktu ke waktu. Selama ribuan tahun nenek moyang telah menghafalkan pola musim, iklim dan fenomena alam lainnya, sehingga mereka dapat membuat kalender tahunan bukan berdasarkan kalender syamsiah (masehi) atau kalender komariah (Hijrah/lslam) tetapi berdasarkan kejadian-kejadian alam yaitu seperti musim penghujan, kemarau, musim berbunga, dan letak bintang di jagat raya, serta pengaruh bulan purnama terhadap pasang surutnya air laut.
Penanggalan Pranatamangsa ini disusun dengan melihat kebiasaan kejadian-kejadian alam pada masa itu yang dianalisis secara cermat untuk menghasilkan 12 bulan yang mempunyai karakter berbeda. Ke 12 bulan tersebut yaitu: 1) Kaso, “sotyo murco saking embanan” (mutiara lepas dari pengikatnya), musim daun-daun gugur pohon-pohon jadi gundul, 2) Karo, “bantolo rengko” (tanah retak), musim tanah jadi gersang dan retak-retak, 3) Katigo, “suto manut ing bopo” musim pucuk tanaman menjalar pada rambatan, 4) Kapat, “waspo kumembeng jroning kalbu” musim sumber-sumber jadi kering, 5) Kalimo, "pancuran emas sumawur ing jagad”, mulai musim hujan, 6) Kanem, “roso mulyo kasucian” musim pohon-pohon mulai berbuah, 7) Kapitu, “wiso kenter ing maruto”, musim bertiupnya angin yang mengandung bias (penyakit), 8) Kawolu, “anjrah jroning kayun” musim kucing kawin, padi mulai berubah, banyak uret, 9) Kasongo,“wedaring wono mulyo” musim jangkrik, gasir, gareng poung, (banyak orang bicara berlebih-lebihan), 10) Kasepuluh,gedong mineb jroning kalbu” musim binatang-binatang hamil, dastho, “Sotyo sinoro wedi” musim burung-burung menyuapi anaknya. sodo, “Tirto sah saking sasono” (air pergi dari tempatnya), musim dingin, orang jarang berkeringat karena teramat dingin, 11) Kasewelas, (destha atau padawana) dan 12) Karolas, (sadha atau asuji).

Pembelajaran Geografi di Sekolah
1.      Konsep Lokasi, yaitu letak di permukaan bumi, misalnya Gunung Bromo terletak di Jawa Timur, Sungai Barito terletak di Kalimantan Selatan, Pantai Losari terletak di Sulawesi Selatan.
2.      Konsep Jarak, yaitu jarak dari satu tempat ke tempat lain yang dibedakan menjadi jarak absolut dan jarak relatif. Jarak absolut merupakan sesungguhnya di atas permukaan bumi, sedangkan jarak relatif adalah jarak tidak sesungguhnya karena dipengaruhi oleh rute, waktu, biaya, kenyamanan dan sebagainya.
3.      Konsep Keterjangkauan, yaitu mudah atau tidaknya suatu tempat dijangkau. Keterjangkauan dipengaruhi oleh jarak sarana prasarana, dan perkembangan teknologi.
4.      Konsep Pola, yaitu persebaran fenomena antara lain misalnya pola pemukiman yang menyebar, yang berbentuk garis dan sebagainya.
5.      Konsep Morfologi, yaitu bentuk lahan, misalnya dalam kaitannya dengan erosi dan sedimentasi.
6.      Konsep Aglomerasi, yaitu pola-pola pengelompokan/ konsentrasi. Misalnya sekelompok penduduk asal daerah sama, masyarakat di kota cenderung mengelompok seperti permukiman elit, pengelompokan pedagang dan sebagainya. Di desa masyarakat rumahnya menggerombol/mengelompok di tanah datar yang subur.
7.      Konsep Nilai Kegunaan, yaitu nilai suatu tempat mempunyai kegunaan yang berbeda-beda dilihat dari fungsinya. Misalnya daerah wisata mempunyai kegunaan dan nilai yang berlainan bagi setiap orang. Tempat wisata tersebut belum tentu bernilai untuk pertanian atau fungsi lainnya.
8.      Konsep Interaksi dan Interdependensi, yaitu keterkaitan dan ketergantungan satu tempat dengan tempat lainnya, misalnya antara kota dan desa sekitarnya terjadi saling membutuhkan.
9.      Konsep Deferensiasi Areal, yaitu fenomena yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya atau kekhasan suatu tempat.
10.  Konsep Keterkaitan Keruangan (asosiasi), yaitu menunjukkan derajat keterkaitan antar wilayah, baik mengenai alam atau sosialnya.

Suharyono (2013) mengingatkan kembali inti hasil seminar nasional pengajaran ilmu bumi yang diselenggarakan tahun 1972 tentang saran-saran positif bagi terselenggaranya pengajaran geografi yang layak. Seharusnya geografi sekolah memiliki tujuan yang hidup, bukan sekedar menghidangkan sederetan nama tempat, gunung dan sungai, atau menceritakan tentang kehidupan di sekitar atau memberi petunjuk untuk bersikap toleran terhadap orang yang berasal dari luar yang berbeda warna kulit, bahasa, agama, makanan, dan pakaian. Seminar 1972 tersebut mengusulkan sejumlah tujuan pengajaran geografi yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap, yang meliputi: a) menanamkan kesadaran ke Tuhan Yang Maha Esa, b) mengembangkan cara berpikir untuk dapat melihat dan memahami relasi dan interaksi gejala-gejala fisis maupun sosial dalam konteks keruangan, c) menanamkan kesadaran masyarakat, d) menanamkan rasa etis dan estetis, e) menumbuhkan pengenalan dan kecintaan akan tanah air serta menanmkan rasa cinta dan hormat kepada sesama manusia, f) memberikan kemampuan untuk membudayakan alam sekitar serta menanamkan kesadaran akan keharusan kerja dan berusaha untuk dapat menikmati atau memanfaatkan kekayaan alam sekitar, g) mengembangkan keterampilan untuk melakukan pengamatan, mencatat, memberi tafsiran, menganalisis, mengklasifikasikan dan mengevaluasi gejala-gejala serta proses fisi dan sosial dalam lingkungannya, h) memupuk keterampilan membuat deskripsi dan membuat peta, i) mengembangkan keterampilan membuat deskripsi dan komparasi wilayah, j) memupuk kesadaran ekologi, k) memupuk kesadaran dan perlunya keseimbangan potensi wilayah dan populasi, l) menanamkan pengertiantentang potensi lingkungan dan kemungkinan-kemungkinan usaha yang ada dalam lingkungan serta mengembangkan pandangan luas dan cita-cita yang rasional dalam memilih dan mengkreasikan lapangan kerja.
Agar materi pembelajaran geografi tidak salah sasaran, maka perlu dipertimbangkan strategi yang tepat agar materi geografi tidak dianggap sebagai pelengkap penderitaan bagi siswa yang belajar. Strategi perlu dibedakn sesuai dengan tingkatan siswa. Pengajaran geografi pada siswa SD berbeda dengan SMP dan SMA, yang intinya tiap tingkatan pendidikan memerlukan strategi yang berbeda. Pada tingkat SD pelajaran geografi masih bersifat deskriptif dan memberikan pemahaman dasar tentang fenomena (gejala) lingkungan alam dan kehidupan di muka bumi dengan membatasi materi pada hal-hal yang paling esensial, yang sejalan dengan pengetahuan sejarah, ekonomi dan pengetahuan sosial yang diberikan pada siswa SD dalam wadah mata pelajaran IPS. Materi disampaikan dari hal nyata lingkungan terdekat siswa, kemudia meluas dan kian abstrak pada kelas-kelas lanjut (sesuai dengan tinkat pemahaman siswa SD. Guru perlu melengkapi pembelajaran dengan media bantu yang sesuai agar tidak terjadi salah pemahaman. Media yang dapat digunakan diantaranya peta, globe,, dan media lain yang dianggap sesuai yang dapat dimanfaatkan. Guru dapat memanfaatkan naluri bermain siswa SD untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menyenangkan. Siswa SD tidak perlu ditarget mampu mendeskripsikan pengetahuan geografi secara tekstual, tapi cukup mampu menceritakan pengalaman siswa tentang lingkungan sekitarnya.
Pada tingkatan SMP guru bisa menyampaikan materi melalui konsep-konsep yang lebih abstrak (sesuai tingkatan siswa SMP).  Materi pelajaran geografi perlu dilengkapi dengan pengamatan langsung di lapangan atau melihat keadaan sebenarnya yang dijumpai dalam realitas kehidupan. Kegiatan itu perlu karena: a) perlu untuk pemantapan dalam pembentukan konsep-konsep penting guna pemahaman konsep esensial geografi, b) perlu conto-contoh materi berkaitan dengan upaya pengembangan muatan lokal. Sebagai informasi, perkembangan kurikulum telah menetapkan bahwa materi geografi diberikan kepada siswa bersama materi ekonomi, sejarah, dan sosiologi dalam wadah mata pelajaran IPS. Guru yang mengampu mata pelajaran IPS juga beragam latar belakang pendidikannya, ada yang berasal dari lulusan pendidikan ekonomi, sejarah, sosiologi, IPS, bahkan di beberapa sekolah masih ada guru IPS yang berasal dari lulusan di luar jurusan yang telah disebutkan dengan berbagai penyebab. Untuk mendukung kegiatan pembelajaran guru perlu menggunakan media yang sesuai dengan kondisi siswa, kemampuan sekolah, dan materi yang akan diajarkan. Penggunaan media gambar, slide, video, dan media lain merupakan alat bantu yang efektif untuk menuntun siswa memahami materi yang bersifat abstrak dan yang penting laigi menumbuhkan kemampuan berliterasi geografi. Pada siswa SMA/MA, materi geografi telah disusun secara mandiri sebagai mata pelajaran geografi.
Ada beberapa faktor geografi tidak dianggap menarik di sekolah. Menurut Enok Maryani (2006), faktor-faktor tersebut adalah a) pelajaran geografi seringkali terjebak pada aspek kognitif tingkat rendah yaitu menghafal nama-nama tempat, sungai dan gunung, atau sejumlah fakta lainnya, b) ilmu geografi seringkali dikaitkan ilmu yang hanya pembuatan peta, c) geografi hanya menggambarkan tentang perjalanan perjalanan manusia di permukaan bumi, 4) proses pembelajaran ilmu geografi cenderung bersifat verbal, kurang melibatkan fakta-fakta aktual, tdak menggunakan media kongkrit dan teknologi mutahir, e) kurang aplikabel dalam memecahkan masalah-masalah yang berkembang saat ini.


Daftar Pustaka
Enok Maryani. 2006. Geografi dalam Perspektif Keilmuan dan Pendidikan di Persekolahan
Iwan Hermawan. 2009. Geografi Sebuah Pengantar. Bandung. Private Publishing
Suharyono & Moch. Amien. 2013. Pengantar Filsafat Geografi. Yogyakarta. Penerbit Ombak
Wagiran. 2012. Pengembangan Karakter Berbasis Kearifan Lokal "Hamemayu Hayuning Bawana"(Identifikasi Nilai-nilai Karakter Berbasis Budaya). Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun II, Nomor 3, Oktober 2012

Yakin benar dan yakin tidak benar

Kita harus meyakini apa yang kita ucapkan, kita lakukan itu benar. Dengan keyakinan tersebut kita akan percaya diri dan mantaf, tidak ragu-ragu. Sebab salah satu penyakin yang menyebabkan kegagalan salah satunya adalah sikap ragu-ragu. Jika hidup penuh ragu-ragu, maka selama itu pula kita tidak akan pernah tenag dalam melangkah, kita jadi pesimis.
Keyakinan kita tentu harus punya dasar, artinya keyakinan yang tidak membabi buta, tidak semata-mata pertimbangan ilmiah, tetapi setidaknya kita punya alasan mengapa kita meyakininya. Keyakinan itu bisa diperoleh melalui beragam cara, misalnya membaca. Dari membaca kita yakin bahwa ibu kota Amerika Serikat bukan New York, tapi Washington DC. Dari membaca kita tahu bahwa Presiden RI sekarang adalah Jokowi, bukan yang lain (ini bukan untuk menyindir kelompok orang yang masih belum percaya bahwa Jokowi adalah Presiden RI, buktinya, di kantor dia masih dipasang gambar orang lain, mungkin dia tidak pernah membaca,, hehe).
Sumber keyakinan yang lain berdasarkan ceramah yang kita dengan dalam kegiatan pengajian, misalnya bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kehidupan di dunia, yaitu akherat. Begitulah keyakinan itu bisa kita dapatkan dari berbagai sumber.
Namun demikian, bagaimana jika sumber-sumber tersebut ternyata diragukan kebenarannya? bacaan bisa salah, orang ceramah bisa juga salah, begitu seterusnya. Maka sebagai orang awam, janganlah kita terlalu naif hanya menggantungkan satu sumber informasi saja untuk memperkuat keyakinan kita. Perlu juga kita menjelajah berbagai sumber informasi supaya kita mendapat informasi yang valid sebagai dasar kita meyakini kebenaran. Jangan memaksakan...
Mungkin juga, antara dua orang bisa punya keyakinan berbeda tentang suatu hal. Ini sangat mungkin jika menyangkut persoalan ibadah. Ada kelompok yang meyakini satu gerakan tertentu dalam kegiatan ibadah, sementara yang lain menentangnya. Masing-masing punya dasar kuat. Sebagai manusia biasa kita tidak bisa menjamin keyakinan kita itu betul seratus persen, apalagi untuk hal-hal seperti yang tadi saya sebutkan, karena pembuktiannya tidak bisa dilihat sebagaimana kita yakin ibu kota Amerika Serikat adalah Washington DC dan Presiden RI sekarang adalah Jokowi.
Perlunya sikap menghargai perbedaan tersebut, tetapi kita tetap harus yakin bahwa apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar. Jika itu tercipta, alangkahnya indahnya..

May 17, 2016

Dinamika Parpol dan Perilaku Pemilih

Mengikuti perkembangan dinamika partai politik di Indonesia sebenarnya mengasyikkan juga. Setidaknya ini menjadi refleksi untuk kita sebagai masyarakat umum, bagaimana kita harus menjalin hubungan baik dengan orang lain atau, bagaimana kita memperlakukan aset-aset kita. Melalui berbagai media, kita mengetahui ada beberapa parpol yang sedang berkutat dengan konflik internal. Ada yang kadernya dipecat padahal kader tersebut sedang duduk dalam posisi penting, lalu masuk ke pengadilan dan pengadilan memutuskan pemecatan kader tersebut tidah sah. Ada parpol yang mengalami dualisme kepengurusan, dan masing-masing mengaku paling sah, masuk pengadilan lagi, pengadilan memutuskan memutuskan lagi dan hasilnya ada yang dianggap sah dan satunya dianggap tidak sah.
Baru-baru ini ada parpol yang berhasil melewati masa-masa dualisme kepengurusan melalui penyelenggaraan munaslub. Musyawarah Nasional Luar Biasa. Berbagai dinamika muncul dalam ajatan besar tersebut, ada manuver calon, wuwuran (dalam kebiasaan masyarakat Jawa Tengah, kl ada pemilihan kades, ada istilah wuwuran atau nyebar duwit), tawuran antar kader, dan ini yang melegakan, terpilihnya ketua baru secara demokratis setelah melalui beberapa tahapan pemilihan.
Ada yang mengganjal dalam benak saya, Keta terpilih adalah mantan petinggi legislatif yang terpaksa lengser karena kasih etika mencatut nama kepala negara. Kok bisa terpilih ya? inilah keasyikan berbicara parpol di Indonesia. Pemilih nampaknya sudah tidak peduli dengan status calon, yang penting cocok. Cocok karena pertimbangan apa, hanya diantara mereka yang tahu.
Tidak aneh, kalau dalam beberapa kegiatan pilkada ada calon mantan terpidana tetap percaya diri maju dalam bursa pencalonan tersebut, dan ajaibnya masih banyak yang memilih. Betapa, masyarakat kita ini sangat pemaaf, dan cepat melupakan kejatahan yang telah dilakukan, sehingga jejak rekam calon yang mantan terpidana tidak dipedulikan.
Secara sederhana saya punya prediksi terhadap kontestan pilkada atau pilihan legislatif yang berasal dari unsur mantan terpidana, khususnya terpidana korupsi. Seandainya mereka berhasil menang, apa yang akan terjadi? Terpidana korupsi tentu akan belajar bagaimana agar mereka tidak masuk penjara untuk kedua kali, maka kali ini mereka akan lebih hati-hati, termasuk lebih jeli membaca peraturan yang ada, dan lebih peka melihat celah-celah korupsi. Dia bisa berpikir, masuknya dia kepenjara karena ceroboh, tidak hati-hati. Maka kali ini dia harus lebih waspada supaya korupsi yang dilakukan bisa lebih aman, karena telah belajar Faktanya, para terpidana korupsi rata-rata menyatakan tidak bersalah.
Mungkin juga, Kali ini dia datang untuk menebus rasa bersalah, dan kali ini dia bertekad betul-betul mengabdi untuk sebagai upaya menghapus dosa-dosa masa lalunya. Entahlah... Itulah dinamika yang bisa kita alai

May 16, 2016

Nekad atau Bodoh?

Terjadi lagi, korban berjatuhan karena miras oplosan, kali ini terjadi di Provinsi Yogyakarta. Entah sudah berapa kali peristiwa ini terjadi, dalam memori saya peristiwa serupa sudah sering terjadi, diantaranya di Semarang, Cirebon, Jawa Timur, dan beberapa kota lain korban meregang nyawa setelah mereka pesta minuman keras oplosan. Saya jadi ingat salah satu lagu tentang oplosan, dan lagu itu faktanya laris dinyanyikan pada acara-acara yang digelar masyarakat bawah.
 Dengan jenaka dan gembira mereka menyanyikan lagu itu seakan menyindir diri mereka sendiri, padahal lagu tersebut punya pesan jelas, jangan minum miras oplosan. Karena resikonya jelas, kematian. Entah mengejek lagu tersebut atau bagaimanapara penghobi minuman keras oplosan seolah menantang, dan ingin menegaskan bahwa mereka tidak takut.
Munuman keras, apalagi miras oplosan dibuat tanpa standar kesehatan yang jelas, komposisi bahan-bahannya juga tidak ada yang menjamin, maka banyak pakar menyatakan bahwa kandungan metanol atau entah apa namanya sangat tinggi yang menyebabkan gagal fungsi organ pasca mereka minum, akibatnya kematian, kebutaan, dan penyakit permanen lainnya.
Yang bikin saya heran, bukankah sudah sering masyarakat mendengar kejadian tersebut? kok tidak kapok ya? apa ang ada dalam pikiran mereka? kebanggan kan? ah entahlah  yang jelas nekad sekali mereka, atau...mereka bodoh. Sebab bodoh juga bisa diartikan sebagai tindakan yang tidak memperhatikan resiko yang akan terjadi.
Tentu saya prihatin dengan kejadian-kejadian tersebut. Berapa nyawa yang hilang sia-sa karena tindakan nekad plus bodoh tersebut? dan bagaimana perasaan keluarganya? ini tentu sangat berat. Keluarga korban jelas bersedih atas kematian anggota keluarga mereka, apalagi jika korban adalah tulang punggung keluarga, atau masih muda bahkan masih di bawah umur, tentu kesedihannya amat mendalam. Lebih berat lagi, mereka meninggal dengan cara seperti itu. Kematian karena kecelakaan, sakit, sudah tua tentu secara umum akan dimengerti dan tidak ada komentar negatif. Tapi meninggal setelah minum oplosan? pastilah kelarga menanggung beban psikologis yang berat. Bagaimana mereka harus menjelaskan kepada tetangga? inilah yang tidak pernah dipikirkan korban sebelum mereka minum oplosan, sebab yang ada dalam kepala mereka hanya bersenang-senang. Mungkin betul, isi kepala orang nekad dan bodoh hanya bersenang-senang.

May 15, 2016

Stiker dan Kebanggan Terhadap Almamater

Mengapa seseorang rela menempel kendaraan kesayangannya dengan gambar-gambar stiker? banyak motivasi yang menyertai ketia seseorang menempel stiker pada kendaraan atau tempat lain. Mungkin dia adalah anggota perkumpulan tertentu yang memproduksi stiker identitas, sehingga dia merasa perlu menempelnya sebagai penegasan atau keterangan bahwa dia adalah anggota dari klub sebagaimana yang tertulis dalam stiker.
Atau mungkin dia adalah pendukung salah satu calon tertentu dalam pemilihan kepala daerah, sehingga rela dia menempeli apapun miliknya untuk menjadi objek penempelan stiker sebagai satu sikap politik. Dalam kasus ini mungkin juga ada imbalan tertentu, dan biasanya masa penempelan stiker akan berahir ketika prosesi pemilihan sudah selesai dengan jadi atau tidaknya calon tersebut dalam pilkada.
Ada juga, karena hobi atau merasa sreg dengan desain atau tulisan dalam stiker tersebut, jika alasannya demikian maka dia tidak butuh pertimbangan yang sifatnya politis dan tidak dipengaruhi oleh kontrak waktru tertentu. Jika suka ya suka saja, nanti kalau sudah bosan ya dilepas lagi, atau dibiarkan saja. Stiker yang disukai karena desain dan tulisan yang menggelitik ini yang saya anggap lebih pada alasan seni. Tidak heran kita menemukan tulisa yang bikin senyum atau harus memikirkan terlebih dulu apa maksudnya.
Seperti yang saya sebutkan tadi, karena merasa bagian dari alumni institusi, saya merasa perlu memasang stiker institusi tempat saya menuntut ilmu dan bekerja pada mobil butut saya. Terpaksa saya pasang di mobil butut ya karena itu satu-satunya mobil yang saya miliki. Ada kepuasan ketika saya lihat tulisan tersebut, lengkap sudah status saya, alumni, dan bekerja ditempat tersebut tentu saja saya bangga, dan kebangaan tersebut saya ungkapkan dengan cara menempel stiker, ya stiker. Ketika kemudia hari ada senior yang mencibir, kok stiker kebanggan ditempel pada mobil butut? saya jadi berpikir ulang, jangan-jangan tindakan saya ini merupakan pelecehan?
Yakinlah, bentuk kebanggan saya terhadap almamater yang seperti itu, menempel stiker pada mediaum yang saya anggap layak, meskipun mungkin bagi orang lain itu dianggap tidak layak. Tapi okelah... siapa yang akan bangga pada almamater tanpa harus menyimpan atau menempel stiker almamater tersebut. Boleh juga kan kalau hanya menyimpan tanpa menempel? intinya adalah bagaimana kita jujur mengungkapkan kebanggan kita pada almamater tempat kita mendapat pengetahuan, keterampilan dan segala tentang kesiapan menghadapi kehidupan.
Ketika kita menempuh dua atau tiga jenjang pendidikan tinggi, tentu kita tidak ingin meninggalkan salah satunya dengan pertimbanga salah satu almamater tersebut kurang keren atau kurang favorit, padahal semua telah memberi jasa. Ya, dengan cara apapun kebanggan kita terhadap almamater harus kita rawat dengan cara apapun.

May 14, 2016

Perspektif Kegagalan

Bagaimana rasanya mengalami kegagalan? tentu tergantung jenis dan peristiwa kegagalan yang dialaminya. Ketika seorang teman memberi tahu ada konser Jazz oleh Dwiki Dharmawan di hotel tempat kami menginap saya menanggapi biasa-biasa saja, toh saya tidak begitu tertarik dengan musik jazz yang menurut saya kurang begitu bisa saya nikmati. Tapi Dwiki Dharmawan dan Ita Purnamasari? saya sering mendengar nama itu, dan ada beberapa lagu yang cukup saya kenal dari mereka. Maka kemudian saya memutuskan untuk memesan satu tempat dalam acara itu karena sebagian besar teman yang lain sudah terlebih dulu mendapatkan tiket. Mumpung di sini, toh tidak terlalu mahal. Tapi apa daya, ketika samapai di resepsionis, ternyata tiket sudah habis. Maka batal deh saya nonton konser Dwiki Dharmawan.
Itu adalah contoh kegagalan ang saya alami, saat itu kekecewaan saya tidak begitu besar karena memang saya tidak begitu ambisi untuk menonton konser tersebut. Beda ceritanya jika saya adalah penggemar berat musik jazz, menyukai sang musisi sampai hafal semua lagu-lagunya, dan sedah merencanakan jauh-jauh hari untuk menonton. Pasti saya akan meratapi kegagalan tersebut.
Ada dua hal yang berbeda dalam menyikapi kegagalan. Pertama menerima dengan biasa-biasa saja, dan kedua tentu saja meratapi kegagalan tersebut. Katagori pertama berlaku bagi mereka yang menganggap kegagalan tersebut sebagai peristiwa biasa yang akan dianggap angin lalu, sementara bagi yang mengalami peristiwa kedua, kegagalan itu begitu membekas. karena sudah ada usaha keras sebelumnya dan pertimbangan psikologis lain.
Pun demikian, ada kalaya kita malu, saat mendapat kegagalan. Lihatlah adik-adik kita yang gagal mendapatkan kursi di SNMPTN tahun 2016 ini. Dari informasi kita membaca ada satu sekolah yang seluruh alumninya gagal diterima dalam SNMPTN karena adanua kesalahan yang sampai tulisan ini saya buat masih dalam tahap investigasi. Mereka gagal, tentu sebagian merasa malu karena ada yang menjadi juara berbagai even kejuaraan ilmiah, masak tidak mendapatkan kursi PTN sesuai pilihan, dia pasti kecewa, walaupun masih ada kesempatan jalur lain. Kepala sekolah tentu juga malu karena ini menyangkut harga dili dalam melaksanakan tugas.
Mungkin juga kita akan marah karena kita sudah merasa berusaha semaksimal mungkin, atau usaha kita sia-sia karena ulah orang lain yang menggagalkan rencana kita. Kita berpikir segala daya upaya talah kita lakukan agar keinginan kita tercapai, tapi tetap saja gagal. Wajar kalau kita marah.
Bagaimana kita mesti mensikapi berbagai peristiwa kegagalan yang kita alami? Orang Jawa bilang SUMELEH. Kata ini sulit diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Mungkin sedikit punya kesamaan dengan Nrimo Ing Pandhum. Tapi kurang lebih maksud sumeleh adalah ihlas menerima kondisi apapun dengan tetap berusaha agar suatu saat berhasil. Sikap sumeleh itu yang mencegah kita menyalahkan orang lain atas setiap kegagalan yang kita alami, sebaliknya akan mendorong kita berbuat lebih baik

May 13, 2016

Antara Berguna dan Tidak Berguna

Tuhan menciptakan sesuatu pasti ada gunanya. Demikian yang kita pahami dari kacamata agama. Hanya karena keterbatasan tingkat pengetahuan kitalah yang terkadang belum menemukan kegunaan setiap benda yang ada.
Manusia adalah ciptaan Tuhan, maka menjadi sangat penting untuk direnungkan nilai guna dari manusia. Berbeda dengan barang, maka nilai guna terletak pada aspek positif apa yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Artinya begini,  manusia akan dianggap baik kalau keberadaan dia memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, dan sebaliknya dia akan dianggap rendah jika keberadaannya tidak memberi manfaat apa-apa bagi lingkungan sekitarnya. Apalagi malah merugikan masyarakat sekitarnya.
Dengan demikian, keberadaan manusia dasi sisi nilai guna bisa kita kelompokkan menjadi tiga, berguna, tidak berguna, dan merugikan orang lain. Ketiga hal itu nampaknya melekat pada setiap individu, tetapi waktu dan situasinya berbeda. Maksudnya, boleh jadi saat tertentu dia memberi manfaat bagi orang lain, tapi lain waktu dan tempat dia menjadi merugikan. Ini tentu sangat kontekstual. Seorang profesor yang menemukan berbagai jenis obat tentu akan memberi nilai guna bagi orang lain karena obat-obat yang dia ciptakan memberi manfaat bagi orang lain, tapi mungkin saja saat tertentu dia melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, karena bagaimanapun dia seorang manusia yang tidak lepas dari alpa.
Persoalannya sekarang adalah, apa upaya yang bisa kita lakukan agar keberadaan kita memberi manfaat bagi orang lain? dengan kecerdasan, kekayaan, kegagahan dan kecantikan yang kita miliki, sudahkan kita memberi arti kehadiran bagi orang-orang di sekitar kita? atau jangan-jangan apa yang kita miliki menjadi sarana untuk menyombongkan diri kita sehingga orang-orang di sekitar kita menjadi sebal?
Pada dasarnya, semua orang ingin keberadaannya memberi manfaat bagi orang lain, karena itu adalah naluriah, tapi saat lain diapun ingin mendapat manfaat dari keberadaan orang lain, nah kedua hal itulah yang menghasilkan kekuatan tarik menarik. Dengan penuh kesadaran tentunya keberadaan kita memberi manfaat bagi orang lain, karena itu sebagai sebaik-baik manusia.

Beratnya Mengembalikan Motivasi

Senior saya di Fakultas Ilmu Sosial Unnes mengingatkan kepada saya dengan membuat perimpamaan bahwa besi akan mudah ditempa jika kondisinya tetap terjaga panas. Kurang lebihnya maksudnya begini, bahwa untuk menyelesaikan pekerjaan, diperlukan situasi yang betul-betul mendukung, salah satunya adalah motivasi. Mumpung masih bersemangat, selesaikanlah, sebab kalau sudah tidak bersemangat, akan sangat berat.
Peringatan itu saya terima seperti tamparan. Betapa tidak, saat itu saya betul-betul merasakan kemalasan yang luar biasa untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah saya dengan berbagai alasan. Harus saya akui, motivasi saya untuk menyelesaikan tugas akhir kuliah sedang mencapai titik terendah, sehingga ogah-ogahan menyelesaikan tugas penting tersebut. Motivasi saya hilang entah kemana, mungkin karena saya merasa nyaman dengan aktivitas sehari-hari saya, atau faktor lain yang memperparah kondisi tersebut.
Memang betul, mumpung masih ada semangat, maka teruslah menyelesaikan tugas-tugas penting. Menunggu dan terus menunggu dengan berbagai alasan akan merepotkan kita, karena besi dalam kondisi dingin akan sulit ditempa. Kalau sudah terlanjur malas, berbahaya...
Diperlukan tamparan memang untuk membangun motivasi, akan terasa sakit memang tamparan tersebut, tapi itu akan lebih baik jika kita tetap memelihara kemalasan. Besi yang sudah terlanjur dingin perlu dipanaskan kembali agar mudah ditempa.
Saya terkadang iri namun lebih banyak takjub dengan teman-teman saya yang selalu enerjik menjaga panas motivasinya. Mereka selalu sibuk berkaitan dengan tugas-tugasnya, sehingga mungkin itulah yang dimaksudkan sebagai situasi besi yang selalu panas, sehingga progres tugas-tugasnya selalu ada.
Mengembalikan motivasi sangat sulit kurasakan, maka salah satu caranya adalah menampar diri saya sendiri. Sebab, tamparan itu, setidaknya akan menghangatkan motivasi, dan secara perlahan akan membakarnya. Inilah....beratnya mengembalikan motivasi

 
Free Host | new york lasik surgery | cpa website design